Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Agustus 2011

Inilah 3 penyebab yang membuat orang melakukan selingkuh

0 komentar
Pernikahan adalah momen membangun kehidupan baru bersama pasangan. Suka-duka akan dihadapi berdua, sebisa mungkin tidak melibatkan pihak lain untuk menyelesaikan masalah. Namun, masalah rumah tangga kadang tidak sesederhana yang dihadapi ketika masih pacaran. Bukan cinta lagi yang dibutuhkan, tetapi komitmen, untuk menjaga keutuhan rumah tangga.

Menurut psikolog Prof Dr Sarlito Wirawan Sarwono, cinta bukanlah pengikat pernikahan. Cinta hanyalah faktor yang bisa menarik seseorang untuk memutuskan berpasangan. “Cinta paling lama bertahan tiga tahun, lalu hilang. Sisanya adalah komitmen, kesetiaan, dan tanggung jawab,” ujar Prof Sarlito, saat peluncuran buku Mencegah Selingkuh dan Cerai karya sosiolog Dra Hartati Nurwijaya di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta, Minggu (14/8/2011) lalu.

Salah satu penyebab retaknya rumah tangga menurut Prof Sarlito adalah perselingkuhan. Perselingkuhan itu sendiri biasanya disebabkan oleh beberapa faktor seperti: kemajuan teknologi, workaholic, dan sifat posesif.

Kemajuan teknologi
Teknologi bukan hal yang menjadi asal-usul perselingkuhan, namun bisa memicu perselingkuhan. Ketakutan bahwa kemajuan teknologi bisa membuat pasangan selingkuh, bisa membuat seseorang melanggar privasi pasangannya. Misalnya, membuka e-mail, SMS, atau situs jejaring sosial pasangan, bahkan minta password segala. Kebiasaan inilah yang menurut Prof Sarlito kerap memicu pertengkaran.

“Beri kepercayaan pada pasangan untuk punya wilayah privasinya sendiri. Kalau ternyata dia selingkuh, itu bisa diurus belakangan. Intinya jangan cari-cari masalah,” jelas Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia yang mendalami Psikologi Sosial ini.

Bagaimanapun, teknologi akan mempermudah pekerjaan dan kehidupan seseorang. Jadi, pasangan pun berhak menikmatinya.

Workaholic
Bila salah satu atau kedua pihak terlalu asik dengan pekerjaan masing-masing, perlahan-lahan bisa menghilangkan kesetiaan. Jika workaholic tidak diselingi dengan kencan berdua, misalnya, akan sulit bagi pasangan untuk bertahan. Hubungan pernikahan akan terasa hambar dan terasa sama saja dengan rutinitas hidup yang lain. Rasa hambar ini kelak akan berujung pada keinginan untuk mencari “selingan”. Siapa yang menjadi "selingan" tersebut? Kemungkinan besar adalah rekan kerja, partner bisnis, atau siapapun yang biasa Anda jumpai saat bekerja atau beraktivitas.

Sifat posesif
Orang yang selalu menginginkan pasangan berperilaku sesuai dengan keinginannya cenderung membuat pasangan menjadi bosan. Kehidupan rumah tangga pun menjadi kaku karena pasangan selalu merasa diawasi dan akhirnya merasa terkekang.

Contohnya masalah cemburu. Cemburu yang berlebihan bisa memberi penghakiman yang terlalu cepat kepada pasangan, padahal perselingkuhan belum tentu terjadi. Kemarahan yang tidak memiliki alasan kuat justru akan menambah keretakan hubungan. Karena sifat manusia cenderung selalu memilih yang lebih baik, jangan sampai ulah Anda yang pencemburu atau posesif mendorong pasangan mencari orang lain.

“Jangan bermimpi mengubah seseorang, tapi ubah dulu diri Anda, maka pasangan akan mengikuti,” tukasnya.
sumber : kompas.com
selengkapnya >>

Sabtu, 20 Agustus 2011

4 Karakter yang Dicari Pria Ketika Memilih Istri

0 komentar

Diam-diam pria punya kriteria dalam mencari calon pendamping hidup. Anda yang belum menemukan pasangan, apakah sudah memiliki 4 karakter ini?

Banyak wanita yang sudah memimpikan pernikahan sejak masih anak-anak. Ketika dewasa, tak semua impian indah tentang pernikahan menjadi kenyataan. Tak usah jauh-jauh merencanakan pernikahan, jodoh pun hingga kini belum ditemukan.

Penampilan fisik belum tentu kunci utama dalam mencari pendamping hidup. Seperti dikutip naomishow, ada empat sifat yang dicari pria pada umumnya ketika mencari sosok istri.

1. Santai
Santai, tidak terlalu ribet apalagi rewel merupakan karakter wanita yang disukai pria. Pria bisa tertekan membayangkan punya istri yang selalu menuntut, terlalu serius, rewel, dan terlalu pengatur. Santailah sedikit, jangan terlalu serius apalagi dalam menghadapi hal-hal kecil.

Pria senang mempunyai teman hidup yang santai, mempunyai selera humor, dan menyenangkan. Wanita yang bisa dengan bahagia menikmati hari minggu dengan bersantai di sofa sambil menonton TV merupakan sosok idola pria. Memang bukan berarti Anda harus selalu santai. Sesekali ia juga mengharapkan Anda menjadi sosok yang serius ketika dituntut untuk menghadapi masalah rumah tangga bersama pasangan.

2. Berani Berpendapat
Rata-rata pria senang jika memiliki istri yang tak ‘terlalu’ penurut. Laki-laki akan senang jika istri juga bisa ikut berpendapat dan berdiskusi tentang sesuatu. Pria tidak terlalu suka pada wanita yang melakukan apa saja demi menyenangkan suami, walau sebenernya sang istri tidak suka melakukannya. Pria senang pada wanita yang berkepribadian kuat dan punya pendirian. Pria akan selalu merasa senang ketika berhadapan dengan wanita yang pintar dan menantang.

3. Menjaga Penampilan
Menjaga penampilan bukan berarti Anda harus selalu tampil cantik seperti supermodel. Pria senang pada wanita yang bisa merawat diri dan menjaga penampilan. Tak ada salahnya sesekali memotong rambut di penata rambut yang terkenal atau merapihkan alis ke salon yang ahli dalam membentuk alis. Secara rutin juga sebaiknya jagalah kebersihan tubuh, jika tak ada waktu ke salon, lakukan perawatan di rumah yang bisa membantu menjaga kebersihan dan kecantikan.

Jika Anda harus pergi ke acara penting bersama pasangan, usahakan tidak tampil apa adanya. Pilih baju dan sepatu yang sesuai serta make-up yang mendukung. Mintalah bantuan profesional seperti salon atau penata rias jika Anda tidak ahli dalam menata rambut dan make-up. Suami Anda pasti bangga menggandeng pasangan yang terawat dan cantik daripada pasangan yang kusam dan tak memperhatikan penampilan.

4. Perhatian dan Baik Hati
Dua sifat tersebut menjadi faktor yang penting dimiliki oleh seorang istri menurut para pria. Ketika membayangkan pernikahan, seringkali mereka juga membayangkan punya anak dan membentuk keluarga. Mereka tentunya ingin anak-anaknya memiliki ibu yang pengertian, penuh cinta, perhatian, dan baik hati.

Kedua sifat tersebut ditambah sifat ramah, membuat pria semakin percaya diri ketika memperkenalkan Anda ke orang tuanya. Tentunya sifat-sifat positif tersebut membuat ia bisa membanggakan Anda sebagai calon istri yang sempurna. Dengan sifat-sifat tersebut, pria yakin ia akan mudah memperoleh persetujuan keluarganya.

Ketika nantinya Anda menemukan pria yang tepat, tentu ia akan mencintai Anda apa adanya. Tapi jika belum menemukan si dia, tak ada salahnya mulai mengembangkan sifat-sifat di atas untuk menarik perhatian para pria.

selengkapnya >>

4 Tips Menyesuaikan Diri untuk Pengantin Baru

0 komentar
Kehidupan baru bersama tentunya membutuhkan banyak penyesuaian. Memang tak semua tak selalu seindah impian, tapi Anda pasti bisa melaluinya jika memperhatikan beberapa tips berikut ini.

Hari pernikahan sudah dilalui, kini Anda dan pasangan tinggal menjalani hari-hari sebagai pengantin baru. Kehidupan yang tadinya banyak berpusat pada diri sendiri kini juga mulai harus memperhatikan keinginan dan perasaan pasangan.

Masa-masa adaptasi ini seringkali tak mudah bagi banyak pasangan. Jangan mudah menyerah, ingat pada komitmen pernikahan yang sudah Anda sepakati sejak awal bersama pasangan. Masalah yang sukses Anda lewati bersama tentunya bisa membuat pernikahan Anda lebih kuat dan kompak. Simak beberapa tips ini untuk membantu Anda menghadapinya:

1. Diskusikan batasan
Menikah berarti Anda telah memiliki keluarga kecil sendiri. Mengatur berbagai hal seputar rumah tangga merupakan hak penuh suami dan Anda. Masukkan dari orang tua tentu masih diperlukan, namun bukan berarti pendapat dari mereka serta keluarga besar adalah yang utama. Biasakan untuk mendiskusikan keputusan akhir dengan suami. Jangan sampai intervensi keluarga malah membuat keluarga berantakan. Hal ini juga bisa ‘mendewasakan’ Anda, suami serta hubungan pernikahan.

2. Jangan membandingkan
Saat telah memutuskan menikah dengan suami, secara tidak langsung Anda telah mengatakan bahwa ia adalah pria terbaik untuk Anda. Oleh karena itu stop membandingkan ia dengan pria lain. Sahabat pria Anda bisa saja jauh lebih tampan atau suami sahabat Anda memiliki kekayaan yang berlimpah, namun ingat suami Anda tetap yang terbaik. Seterpuruk apapun keadaan suami, Anda harus tetap mendukungnya. Ingat, ia adalah rekan, sahabat, serta seseorang yang akan menemani Anda menjalani hidup.

3. ‘Kita’ bukan ‘Saya’
Kini Anda mulai harus mulai mengubah sudut pandang. Segala sesuatu harus dipikirkan berdasarkan kepentingan bersama. Tak ada lagi sudut pandang ‘Saya’, yang ada hanya ‘Kita’. Biasakan untuk memperhatikan bagaimana perasaannya atau pendapatnya saat memutuskan untuk melakukan sesuatu.

4. Jangan Terlalu ‘Nyaman’
Merasa nyaman di rumah sendiri tentu boleh-boleh saja. Namun jangan terlalu cuek hingga tidak memperhatikan penampilan. Memakai daster lusuh, memakai pakaian dalam yang tidak menarik, atau bersendawa terlalu keras merupakan hal-hal yang tidak boleh terlalu sering Anda lakukan di depan suami. Tetap perhatikan penampilan agar suami makin sayang dan hubungan Anda selalu hangat. Memang suami Anda belum tentu protes ketika Anda mengenakan daster lusuh, tapi lama kelamaan bisa saja hal tersebut melunturkan perasaannya pada Anda.
selengkapnya >>

6 Cara Cegah Perceraian Sejak Sebelum Menikah

0 komentar
Tren kawin-cerai yang semakin marak belakangan ini membuat banyak pasangan khawatir. Untuk mengurangi risiko berpisah setelah menikah, perhatikanlah 6 hal berikut ini.

Sebab-sebab perceraian di Indonesia, seperti faktor ekonomi, perselingkuhan, sampai kekerasan dalam rumah tangga merupakan beberapa faktor yang bisa menjadi penyulut kasus perceraian. Tentu Anda yang sedang berencana menikah tak ingin merasakan kasus serupa. Perceraian bisa dicegah, bahkan jauh sebelum pernikahan.

Pernikahan memang membutuhkan banyak kompromi, kedewasaan, serta komitmen penuh. Ketika Anda sudah memutuskan pernikahan, maka Anda sudah setuju akan komitmen seumur hidup dengan pasangan. Siap berkompromi dengan berbagai kekurangannya dan menghadapi berbagai masalah dengan kedewasaan.

Dikutip about, ada beberapa hal yang jika diperhatikan sebelum menikah dapat mengurangi risiko perceraian. Jika hampir semua hal-hal ini bisa dipenuhi, diyakini risiko perceraian akan berkurang. Tetapi bila masih banyak yang belum bisa dipenuhi, tak ada salahnya Anda menunggu demi kebaikan berdua.

Faktor Usia
Usia sangat menentukan kesuksesan pernikahan. About menyarankan Anda berusia paling tidak 25 tahun ketika akan menikah. Sebelum berusia 25 tahun, kemungkinan kemampuan komunikasi dan pengalaman hidup Anda masih sangat berkurang. Dikhawatirkan juga ketika menikah sebelum usia ini penghasilan Anda masih belum cukup dan umumnya menikah karena alasan yang salah. Kematangan intelektual juga dipercaya makin mantap setelah usia 25 tahun. Dengan bekal tersebut diharapkan Anda bisa lebih dewasa dan percaya diri ketika menghadapi pernikahan serta berbagai masalah di dalamnya.

Apabila Anda belum berusia 25 tahun dan berencana untuk menikah, perlu diingat Anda harus memiliki komitmen yang tinggi terhadap hubungan Anda. Jangan mengeluh di kemudian hari jika kehidupan Anda berubah dan kebebasan serta waktu bersama teman sangat berkurang. Pahami risiko dan konsekuensi yang akan dihadapi setelah menikah. Jangan mengharapkan Anda bisa mendapatkan segala yang diinginkan, pernikahan adalah kompromi, ego pribadi harus sangat dikurangi.

Hubungan Keluarga
Orang tua seringkali menekankan pada bibit bebet bobot. Hal itu memang bukan tanpa alasan, menurut penelitian risiko perceraian meningkat 14% jika menikah dengan pasangan yang memiliki orang tua bercerai. Tentunya sebab perceraian orang tua dan bagaimana orang tua menangani perceraiannya juga berpengaruh.

Pandangan seseorang terhadap pernikahan seringkali dipengaruhi oleh lingkungan keluarganya. Tentu tak menutup kemungkinan pasangan yang mempunyai orang tua tidak bercerai menjamin 100% pernikahannya akan langgeng. Hubungan keluarga hanya salah satu faktor yang ikut mempengaruhi, tapi bukan menentukan sepenuhnya.

Saling Membantu
Pria yang terlihat mau membantu pekerjaan rumah tangga dipercaya membawa efek baik bagi pernikahan. Rumah tangga memang menjadi tanggung jawab bersama suami-istri, karena itu kerjasama saling membantu sangatlah penting untuk menjaga iklim yang baik dalam pernikahan. Hal ini juga bisa membantu mengurangi salah satu sumber konflik yang bisa merusak pernikahan.

Kondisi Ekonomi
Hitung perkiraan berapa pengeluaran Anda secukupnya ditambah tabungan untuk masa depan. Perhitungkan apakah pemasukan Anda dan pasangan sudah bisa menutupi hal tersebut. Memang uang bukan satu-satunya sumber kebahagiaan dalam pernikahan, tapi tak bisa dipungkiri banyak pasangan memulai konfliknya karena sebab ini. Data yang dilansir Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung mengatakan sebab perceraian nomor satu di Indonesia pada tahun 2010 adalah karena masalah ekonomi.

Memang tak perlu menunggu sampai kaya raya untuk bisa menikah. Tapi paling tidak kebutuhan dasar dan sedikit tabungan sebaiknya sudah bisa dipenuhi baik oleh suami maupun secara bersama-sama. Bicarakan hal ini secara terbuka dengan pasangan untuk menghindari konflik di kemudian hari. Sepakati rencana keuangan Anda termasuk apakah sang istri juga sangat diharapkan membantu perekonomian keluarga atau tidak. Jangan pernah merasa tabu membahas hal ini. Lebih baik jelas dari awal daripada menimbulkan konflik di kemudian hari.

Perbedaan Keyakinan dan Budaya
Pasangan dengan perbedaan keyakinan atau dengan pernikahan antar bangsa sebaiknya membicarakan banyak hal sebelum menikah. Bagaimana Anda akan menjalani ritual agama, bagaimana dengan agama yang akan dianut anak-anak, anak-anak akan mengikuti kewarganegaraan siapa, dan isu-isu lain seputar perbedaan keyakinan serta budaya yang sangat berpengaruh.

Membicarakan hal ini dari awal bukan berarti nantinya pernikahan Anda bebas konflik. Tapi setidaknya beberapa hal penting sudah disepakati untuk menghindari perselisihan di kemudian hari. Pasangan dengan kondisi seperti ini harus memiliki komitmen yang sangat tinggi, mau berkompromi, dan tidak mudah menyerah pada konflik. Tak ada salahnya meminta pendapat ahli pernikahan atau pemuka agama sebelum menjalani pernikahan.

Pernah Menikah
Secara teori risiko perceraian pada pernikahan kedua memang menurun sebanyak 3%. Tapi tetap saja ada beberapa hal yang bisa jadi potensi konflik dari sejarah pernikahan sebelumnya. Jika pasangan Anda pernah menikah, pastikan Anda sudah sepakat dan membicarakan dengan jelas isu-isu seputar mantan istri, anak dari pernikahan sebelumnya, dan kondisi keuangan setelah menikah.

Perhatikan juga baik-baik sebab perceraian dan kepribadian pasangan. Usahakan untuk mencari informasi tak hanya dari satu sumber dan satu sisi. Yakinkan diri Anda untuk siap menghadapi risiko yang akan ditemui bila membina rumah tangga dengan pasangan yang pernah bercerai. Coba jalani penjajakan lebih lama untuk mengetahui sifatnya lebih dalam. Jangan sampai dibutakan oleh cinta, coba dengar pendapat dari orang-orang terdekat Anda.
selengkapnya >>